Showing posts with label pelatihan. Show all posts
Showing posts with label pelatihan. Show all posts

Friday, February 4, 2011

Pengembangan Jati Diri Remaja

Status masa remaja, dalam kisaran umur 17-25 tahun, merupakan status yang memerlukan pembinaan dan pemupukan jati diri sebagai wahana untuk menumbuhkan nilai, persepsi, dan sikap yang positif dan produktif dalam menjalani lintasan kehidupan selanjutnya.  Bagi sebagian besar remaja, selama menjalani status ini, dinamika kehidupan modernitas telah mewarnai mereka dengan “gaya hidup”, “atribut kelompok yang menjadi panutan”,  dan “perilaku konsumsi produk/jasa yang menjadi ikon ekspresi diri”.   Dalam situasi seperti ini, maka nilai, persepsi, dan sikap menjadi terpola atau terbentuk oleh gaya hidup, atribut kelompok, dan konsumerisme. 

Menyikapi situasi seperti ini, maka keberadaan kelembagaan sosial kemasyarakatan (LSM), instansi pemerintah yang berfungsi melakukan pembinaan (Pemerintah Provinsi DKI Jakarta), lembaga keagamaan, dan kelembagaan lain perlu melakukan rekayasa kegiatan pembinaan dan pengembangan jati diri, sesuai dengan peran, fungsi, dan kapasitasnya masing-masing. Berdasarkan kajian akademis, maka ada beberapa pokok pemikiran yang melandasi perlunya pembinaan dan pengembangan jati diri remaja, antara lain :
  • Jati diri remaja selaku generasi penerus bangsa, jati diri ini penting untuk dibangun karena remaja memerlukan pemahaman tentang sosok dirinya yang dilahirkan dan dibesarkan sebagai insan Bangsa Indonesia.  Rasa memiliki kebangsaan (wawasan kebangsaan) yang terpatri di kalangan remaja akan menumbuhkan persepsi dan sikap berbangsa yang tangguh atas pentingnya menjunjung martabat keberadaan bangsanya sendiri dihadapkan pada atmosfir globalisasi yang diwarnai dengan persaingan antar bangsa di dunia, yang merambah tanpa sekat.  Kepekaan dan kewaspadaan atas potensi infiltrasi budaya dan perilaku yang dapat merusak jati diri bangsa, melemahkan daya saing bangsa, dan bahkan cenderung mengeksploitasi sumber daya bangsa, harus dapat dipahami oleh remaja.
  • Jati diri remaja selaku insan muda yang sepatutnya memiliki percaya diri untuk membangun masa depan yang gemilang.  Kegamangan dan kegelisahan remaja yang muncul sebagai akibat “mengikuti arus” gaya hidup, kelompok panutan, dan konsumerisme harus dapat digantikan dengan kesadaran “mempersiapkan dan menumbuhkan kompetensi diri” sehingga timbul keyakinan diri mampu membentuk kehidupan masa depan bangsa yang lebih baik. 
  • Jati diri remaja selaku insan muda yang sepatutnya memiliki kepekaan sosial dan gagasan untuk melakukan rekayasa sosial masyarakat di lingkungannya.  Kepekaan sosial merupakan elemen jati diri yang penting untuk dibina dan dikembangkan bagi remaja, bahkan sepatutnya kepekaan sosial ini harus diasah dan ditumbuhkan sejak dini, dalam membentuk tatanan hidup bermasyarakat dan berbangsa yang bermartabat.
  • Jati diri remaja selaku insan muda yang sepatutnya memiliki pemahaman atas arti pentingnya memelihara kelestarian lingkungan hidup.  Rasa cinta dan kesadaran memelihara lingkungan hidup, serta tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan hidup penting untuk ditumbuhkan dan dikembangkan di kalangan remaja.  Pemahaman terutama perlu ditanamkan kepada remaja atas potensi degradasi lingkungan hidup akibat perilaku konsumsi bersampah organik permanen (sulit untuk didaur ulang secara biologis), konsumsi energi kendaraan bermotor yang tidak efisien dan produktif, dan perilaku konsumsi lainnya yang berpotensi buruk terhadap lingkungan hidup.
  • Jati diri remaja selaku insan muda yang memiliki kapasitas untuk berpartisipasi dalam pembangunan (Provinsi DKI Jakarta).   Pemahaman tentang ruang peran apa saja yang dapat dilakukan dan ditampilkan oleh remaja (di DKI Jakarta) untuk berpartisipasi pada event/lomba/pentas yang dapat memberikan kontribusi pencitraan wilayah/provinsi perlu ditanamkan di kalangan remaja, sehingga mereka dapat tertarik dan menyiapkan diri untuk tampil merepresentasikan citra bagi warga di wilayahnya atau bahkan mampu mewakili provinsi di tingkat nasional maupun internasional, sesuai dengan potensi dan kompetensinya.
Berdasarkan penjelasan tersebut diperlukan sebuah kegiatan pengembangan jati diri remaja yang terarah dan relevan untuk membangun nilai, persepsi, dan sikap yang positif dan produktif terhadap masa depan kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsanya.  Demikian pula diharapkan melalui kegiatan ini, dapat mengembangkan motivasi, pengetahuan, dan kapasitas  di kalangan remaja untuk berpartisipasi dalam pembangunan, melalui keikutsertaan dan pencapaian prestasi pada event/lomba/pentas yang merepresentasikan warga dan wilayahnya atau pun dalam bentuk peran positif lainnya yang dapat dilakukan oleh remaja.
Kegiatan ini berbentuk pelatihan untuk mengembangkan jati diri remaja, melalui materi pelatihan yang relevan, yakni : arah kebijakan pembangunan Provinsi DKI Jakarta, kepribadian, “sosial entrepreneurship”, wawasan kebangsaan, dan pelestarian lingkungan hidup.

Kegiatan pelatihan ini selain berbentuk penyampaian materi dan studi kasus (kerja kelompok), juga dilakukan aktivitas membangun semangat bekerjasama melalui “Out Bond” bagi peserta.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk :
  • Mengembangkan jati diri remaja selaku generasi penerus bangsa,
  • Mengembangkan jati diri remaja selaku insan muda yang memiliki percaya diri untuk membangun masa depan yang gemilang. 
  • Mengembangkan jati diri remaja selaku insan muda yang memiliki kepekaan sosial dan gagasan untuk melakukan rekayasa sosial masyarakat di lingkungannya. 
  • Mengembangkan jati diri remaja selaku insan muda yang memiliki pemahaman atas arti pentingnya memelihara kelestarian lingkungan hidup
  • Mengembangkan jati diri remaja selaku insan muda yang memiliki kapasitas untuk berpartisipasi dalam pembangunan (Provinsi DKI Jakarta).  

Kegiatan ini ditujukan untuk memberdayakan 60 peserta sebagai “fasilitator” yang diharapkan dapat berpartisipasi dan berperan selanjutnya menyebarluaskan pengetahuan dan pemahaman tentang jati diri remaja, serta mengaktualisasikannya di lingkungan wilayah masing-masing.  Peserta kegiatan dipilih dari masing-masing 6 (enam) wilayah kotamadya/kabupaten, berasal dari kalangan remaja (umur 17 – 25 tahunan).  

Tempat penyelenggaraan kegiatan dipusatkan di Bumi Perkemahan Cibubur, selama 3 (tiga) hari, yakni Tanggal 12, 13, dan 14 Juli 2009.

Tim pelaksana kegiatan ini adalah Pusat Pemberdayaan Masyarakat Jakarta (PPMJ) yang mendapat penugasan dari BPM dan KB Provinsi DKI Jakarta, diperkuat oleh pakar akademisi sosial kemasyarakatan, dan stakeholders pembangunan DKI Jakarta lainnya.                                        

Sunday, April 19, 2009

KIPRAH AWAL KELEMBAGAAN PUSAT PEMBERDAYAAN MASYARAKAT JAKARTA (PPMJ)


Kiprah awal kelembagaan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Jakarta (PPMJ) adalah saat kami (Pak Cecep, Pak Haris, Iedham, Euis, dan Wahyu) mendapat penugasan dari Fauzibowo Center dan PWNU DKI Jakarta untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan pelatihan yang ditujukan untuk mempersiapkan dan membina kader muda NU DKI Jakarta yang memiliki nilai, sikap, dan perilaku dalam rangka berpartisipasi mewujudkan “Jakarta yang Nyaman dan Sejahtera untuk Semua”. Pendanaan kegiatan ini disponsori oleh H. Djan Faridz. Kegiatan ini dilaksanakan pada Tanggal 10-16 Agustus 2008, di Cibubur, dengan merekrut secara terseleksi 60 kader muda NU DKI Jakarta, selama waktu tersebut, para peserta diwajibkan mengikuti beberapa aktivitas, untuk membangun aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang diperlukan bagi kader muda NU DKI Jakarta, mereka diharapkan memiliki komitmen, responsif, dan militansi, baik dalam memberikan kontribusi bagi kelembagaan NU DKI Jakarta maupun bagi Pembangunan DKI Jakarta. Alhamdulillah kegiatan tersebut berjalan dengan baik, mendapat pengakuan keberhasilan baik dari kelembagaan PWNU DKI Jakarta maupun dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri.

Sebagai gambaran “Pelatihan Kader Muda Jakarta” (PKMJ) dimaksud, berikut ini disajikan penjelasannya :
  1. Nama Kegiatan : “Pelatihan Kader Muda Jakarta” disingkat PKMJ
  2. Tujuan Kegiatan : Membentuk Nilai, Sikap, dan Perilaku Kader Muda NU di DKI Jakarta yang memiliki Komitmen, Responsif, dan Militansi dalam rangka berpartisipasi mewujudkan “Jakarta yang Nyaman dan Sejahtera untuk Semua.
  3. Panitia penyelenggara : merupakan panitia gabungan antara PWNU, MWC, dan FBC.
  4. Jumlah peserta : 60 orang, terdiri 47 peserta putra dan 13 peserta putri.
  5. Berdasarkan pendidikan yang ditamatkan, mereka yang berpendidikan :
    o S-2 = 1 orang
    o S-1 = 7 orang
    o D-2 = 2 orang
    o SMA = 26 orang
    o MA =14 orang
    o SMK = 10 orang
    Di antara ke-60 orang dimaksud, 7 orang peserta juga telah memiliki pendidikan basic Pesantren.
  6. Umur peserta (sesuai dengan ketentuan yang berlaku) berkisar antara 17- 25 Tahun.
  7. Berdasarkan organisasi, peserta merupakan utusan :
    o MWC (Majelis Wakil Cabang) = 44 peserta
    o Badan Otonom (Banom) = 16 peserta. Banom dimaksud adalah IPNU-IPPNU, Ansor, Fatayat, dan PMII.
  8. Berdasarkan wilayah, peserta dapat dikelompokkan dari wilayah :
    o Jakarta Timur = 15 orang
    o Jakarta Utara = 13 orang
    o Jakarta Barat = 12 orang
    o Jakarta Pusat = 10 orang
    o Jakarta Selatan = 6 orang
    o Kepualuan Seribu = 4 orang
Waktu pelaksanaan : 6 (enam) hari – 6 (enam) malam, peserta dan panitia menginap di Bumi Perkemahan Graha Wisata (BUPERTA), Cibubur.
  1. Materi yang disampaikan adalah :
    o Materi Ke-NU-an : K.H. Ma’ruf Ami, DR. Masdar F. Mas’udi, dan K.H. Ahmad Bagdja
    o Materi Kepribadian : PT Edupromo Media Inovasi (UI)
    o Materi Ke-DKI-an : Drs. Masrokhan, M.Si., Ir. Nugraha Kustianto Yasin, Dipl. Ph.D., Ichwan B.N. SH., MM., dan H. Ibnu Hajar B.
    o Materi Diamika Politik : DR. Cecep Effendi, Juri Adrianto, S.Pd., M.Si., H. Djan Faridz , dan Idrus Marham
    o Materi Kunjungan : Ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD DKI Jakarta
    o Materi Outbond : Tim Outbond Buperta Cibubur
  2. Selain penyampaian materi, juga dilakukan Pembentukan Nilai, Sikap, dan Perilaku melalui :
    o Disiplin Olahraga Pagi
    o Disiplin Baris-Berbaris
    o Disiplin Peserta Selama Berada di dalam Ruang Pembelajaran
    o Shalawat Badar
    o Achievement Motivation
    o Disiplin dan Dinamika Kelompok
    o Outbond
    o Muhasabah (Nisfu Sya’ban 1429 H.)
  3. Pakaian peserta yang diseragamkan : Kaos Olahraga dan Pakaian Batik.
  4. Hasil diskusi kelompok peserta yang perlu dilaporkan adalah “Matrik Perumusan Usulan Perwujudan Situasi Nyaman, Situasi Sejahtera, dan Citra untuk Semua di DKI Jakarta” yang berhasil dibuat oleh para peserta (yang didampingi oleh fasilitator FBC) dalam rangka perwujudan Visi : “Jakarta yang Nyaman dan Sejahtera untuk Semua”, sebagaimana tertuang dalam dokumen RPJMD Provinsi DKI Jakarta 2007-2012 (Perda Provinsi DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 2008).
Berawal dari kegiatan ini kemudian kami (Pak Makmun, Pak Cecep, Pak Haris, Iedham, dan Euis) bersepakat untuk melembagakan diri dalam wadah LSM “Pusat Pemberdayaan Masyarakat Jakarta” atau disingkat PPMJ.